TAK GENDONG

Sepasang manusia berdiri tegak di tubir pantai.
Tangannya bergenggaman erat berpacaran.

"Sayang...aku ingin minta darimu satu"
"Mintalah apapun, mampu jikaku"
"Aku ingin... kamu seperti Mbah Surip"


(You Go, I Go My Dear...)

ZERO POINT

Pernahkah kamu merasa berada di titik terendah dalam hidupmu? Pasti pernah, dan kamu punya pengalaman tersendiri tentang itu. Aku juga. Karenanya aku ingin bercerita.
Aku merasakan gejala aneh saat wishlistku semakin berkurang setiap hari, sampai akhirnya aku cuma punya satu yang benar-benar aku inginkan...dan itu adalah...sebuah...

RADIO TAPE

Entah kapan awalnya aku begitu berharap bisa mendengarkan suaranya kencang-kencang bukan lewat MP3 player dan headset tapi lewat radio tape. Suara yang mampu menggedor-gedor gendang telingaku, membuat setiap sel di tubuhku setengah trans menari-nari. Gila. Aku. Gila. Kamu. Dan suara yang bening-bening gimana gitu itu berhasil menjatuhkanku di titik hampir minus.
Sepertinya pemiliknya tahu aku mendengarkan. Jadi awas saja, sekalian kubeli radio super boomba, biar dia puas menyiksaku setiap pagi. Toh dia duluan yang sudah merasa tersiksa.

"Still in 99,9 Kangen FM, Alright that was Terbang Bersamaku by Kangen Band. To uplift kangen listener's spirit in this heavenly morning... I'll be right back after these news commerce, so stay tuned"....klik

DINDING

Selayaknya dia memang harus menyukai dinding. Menatapnya lama-lama seperti memandang kekasih yang baru pulang dari rantaunya. Dinding punya rasa dan ra(h)sia yang iramanya sejalan dengan arah hatinya. Dinding punya warna yang sedikit banyak mampu menyusun kesunyian yang ia genggam. Dalam permukaannya yang abu penuh retakan, dinding seolah berbisik lewat bibirnya yang basah.
"How could you be nothing to me, when everything i want is you with in"
Dan dia tersenyum basah airmata. Dirabanya permukaan yang kasar, butiran halus tersentuh oleh jarinya meninggalkan birahi sanguinis yang sangat purba. Dia tidak lagi merasa perlu bertanya sedalam apa perhatian, sejauh apa perjalanan, selama apa waktu. Dia hanya tahu.
Dinding punya perhatian penuh untuk memahami isyarat selembut dan sehalus apapun yang dia bahasakan. Isyarat kehilangan serupa bisikan puisi
The art of loosing isn't hard to master, though it might look like a disaster.
Selayaknya dia memang harus menyukai dinding. Dinding adalah pendengar yang baik untuk apa yang terucap dan apa yang tidak mampu dia rangkaikan walau dalam satu kata.
"Pandangi saja dinding, sampai kamu sadar aku di sini..."

APORISMA

Guru boleh kencing bediri, murid juga boleh kencing berlari (Ini demokrasi)
yang tidak boleh murid mengencingi guru (itu namanya anarki)
sudah tau bedanya kan?
kamu toh gak stupid-stupid amat...

PACAR

Pacar, Kamu genit menyapaku saat ku lengah minta dipacari. Kamu senang menipuku dengan kata-kata rindu dan cinta yang aku suka. Seperti anak kecil yang mendapatkan balon warna kemudian diam-diam melepaskannya ke udara.
Seperti itulah kamu. Gas Helium dalam balon yang mudah kuterbangkan biar terbawa angin. Saat aku bosan warnanya, saat aku lelah memegangnya, saat aku malas menggenggam talinya. dan dikejauhan ibu menawarkan es krim vanilla di panas peluh.
Seperti itu
Sungguh

RAMBUT

Rambutku mulai rontok. Bukan salah shampoo bukan juga karena sakit panas. Rambutku mungkin terlalu lelah hidup di kepalaku yang tinggal setengah jarak menuju awal penciptaannya.
Untuk kemudian didaur ulang menjadi pohon kelapa dan mayangnya.

ANAK PERAWAN

Aku rasa pepatah anak perawan tidak boleh duduk di depan pintu, nanti berat jodoh, sudah sangat oldies dan gak valid sama sekali. Bukannya ingin melangkahi segala pemali. Tapi coba jaman sekarang apa masih ada (anak) perawan?. Kalaupun ada mereka lebih suka duduk di depan mall daripada duduk di depan pintu.
Jadi lebih bagus pepatah itu diganti dengan "Anak mo perawan ataupun (gak) perawan tidak boleh duduk di pangkuan om-om". Karena... gak perlu dijelaskan kalian juga sudah tahulah...

GAMBAR

Aku lagi senang menggambar. Cukup pakai pensil saja biar lebih dramatis. Tarikan garis pensil yang hitam putih membuat mataku lebih mudah mencari celah mana yang harus diarsir dan efek sedalam apa yang aku inginkan. Menggambar sudah menjadi ekstasi murah meriah untuk melupakan waktu dan durasi yang akhir-akhir ini sering menipuku dengan segala tingkahnya dalam mengejar dan memintaku untuk merasa "tua". Hell no way time, tua bagiku cuma tanda hitam -putih di rambutku saja seperti guratan pensil gambarku di atas kertas.
Aku ingin menggambar Mu.
Mengarsir kangen, menggores kenangan, memulas doa dan membentuk Kamu. Menggambar Mu serupa mencabuti jarum satu persatu yang telah tertanam di tubuhku. Jika kutarik garis terlalu keras dan tegas, maka kamu membuatku yakin kamu tidak seperti itu. Kamu kan Maha Pengasih.
Jika kutarik garis terlalu halus, hampir tidak kentara, aku jadi malah tambah yakin kamu tidak seperti itu. Wong ayat-ayatMu begitu jelas membekas di hatiku. Jadi, dari sudut mana aku harus memulai?
Apakah aku harus berhenti menggambarMu karena tak mungkin?
Kamu mungkin obyek tersulit yang pernah aku gambar, hmm tentu saja mana mungkin kita menggambar subjek?.

Aku adalah apa yang hambaku prasangkakan terhadapKu

Akhir-akhir ini aku merasa semakin suka menggambar. Menggambari zat Mu yang ada di setiap penciptaanku, kemanusiaanku, Kemakhluk Tuhananku