Pesta

Pesta telah usai…tinggal asap lilin dan bau hangus terbakar. Sementara senja diam-diam mengamati, menunggu saat yang tepat mengabrasi waktu yang berulat serupa daun.

“ Selamat senja Tuan… Sudahkah Anda mencintai diri sendiri?”

Dari jendela kereta yang berembun, kupandangi wajah-wajah rumput. Angin yang menggembala debu dan peron-peron berbangku lusuh bercerita tentang sajak-sajak air mata yang rindu, bahagia, kesumat, cair dan membara

Pesta telah usai…Sementara senja mengulurkan tiket dipelupuk mataku,

"Untuk membayar kerinduan yang mengental dan menebal!" katanya.

Senyumnya beku seperti martir yang terbiasa susah. Pantaslah wajahnya berkantung, rona gelap pias berkerumun dimatanya. Aku mencoba menafsirkan tasbih, mengumpulkan kekuatan. Padahal keyakinan hanya ada dalam satu kalimat yang kuulang-gumamkan.

Tinggal tiga stasiun lagi...tinggal tiga stasiun lagi...

Berlalu sepi menampar wajahku lagi.