KABHI KUSHI KABHIE GHAM

Pemanasan global! Begitu yang didengung-dengungkan televisi. Kemarau, hati laki-laki ini merangas. Ribuan doa selaksa duka tak bernyawa. Dia berjalan di sepanjang jalan tikus di Brahmapuri, kemudian Jaipur the pink city menyapanya dalam kalimat lembut tapi tanpa makna. Ini Rajashtan! Panasnya sama, matahari yang sama, perasaan sanguinis yang berbeda.
Sambil menyeret tripod kamera dia biarkan anak kecil bergelang tembaga dengan kalung kesengsaraan makan dari piring kaleng ibunya yang berbindhi. Tidak ada selera sama sekali untuk mengabadikan keindahan atau suasana pilu-sepi anak tadi, dia hanya rindu rumah. Di sebuah tangga batu dia mengeluh.Tempat ini jauh dari ketuhanannya, duh takbiran apa kabar? Belum cukupkah sebulan menumpuk rejeki, dia biarkan dirinya terdampar demi sebuah pengakuan bahwa intelijensia selalu berhasil, tangkap gambar-gambar bagus lewat viewfinder kameramu,kesempatan, kapan lagi bisa diundang ke negeri Kuch Kuch Hotta Hai.
“Taj Mahal Cip, Taj Mahal, bikinan Shah Jehan itu...!” Sang big boss cantik-cantik pedas seperti biasa mengomporinya dengan berbagai bujukan untuk pergi (elo utang banyak banget ke gw Ra). Dan lelaki ini tersesat kalap mata antara perasaan tidak enak menolak atau ingin berkumpul dengan keluarga (duh bukankah sampai saat ini karir tetap nomor satu?) lelaki ini takut kehilangan kesempatan melebarkan sayap di dunia promosi surga benda-benda konsumtif. (Item pentingnya termasuk ikat pinggang manis Croc line by Pacco Rabanne.. OMG bikin ngiler!). Dia tidak ingin berakhir di kantor broadcast milik kapitalis murni itu selamanya.
“Ji giling juga yah kita. Lebaran malah jauh geneh!” (berangkat bareng oji yang sibuk ngetik-ngetik di laptopnya. Laporan pandangan fashion, takut menguap katanya)
“Biasa aja..bukannya elo emang jarang di rumah? Apa bedanya lebaran ama hari biasa? (Ji you never know what lebaran means, you don’t even believe in god, you darn fascist!)
“Di Delhi banyak masjid, kalo elo mau kita ke sono naik kereta atau ke KBRI ngejar.. kalo sholat ied doang mah!” Lelaki ini menggeleng disapunya keringat di dahinya sambil bergumam pelan, ratusan foto katalog dan komposit extra dari agen di Mumbai dia susun rapi di ordnernya.
“Gue balik hotel aja!’ matanya menatap ke jalan penuh orang bersorban, kulit yang legam bertelanjang dada. Dihentikannya taksi. Menutup telinga sampai resah tak terdengar.
“Tuhan menciptakan mulut bukan untuk banyak bicara tapi untuk banyak berdoa’
Dia ingin banyak berdoa untuk kakak-kakanya yang rela datang ke Bandung jauh-jauh hanya untuk berkumpul tapi malah dia tinggalkan, untuk kekasihnya yang masih harus dinas di rumah sakit di malam takbiran, juga untuk ibunya yang tadinya berharap dia bisa berkumpul walaupun setahun sekali. Biasanya ibunya pasti sibuk mendengarkan ceritanya soal lumpur Lapindo di kali Porong, soal proyek nukilr negara yang tidak sukses, soal penyanyi dangdut Trio Macan yang sexy beibeh, juga soal tas season baru Louis Vuitton yang detil scarfnya punya warna Fuscchia yang unik abis. Sambil diam-diam mengagetkannya dengan secangkir kopi caramel dan sebungkus Marlboro softpack mentol, sementara dari musholla dekat rumah teh Stella di Dipati Ukur terdengar suara takbir...(Perih deh..‘awas Kau Gangga! Air hitammu yang mengundangku kemari...’)

Assalamualaikum

Dah dimana? Kita lagi ngumpul
Jaga kesehatan, balik dari Mumbai
Langsung ke bandung

ya, ditunggu gosipnya

Sender:
Teh Nana
0818266xxx
'Berdoalah padaKu maka akan kukabulkan'
Tapi doa nya belum didengar, di kamar hotel berdinding coklat lelaki ini mendesah kalah.
'Somse..Belom minta
maaf sama ibu...'
Sender:
Ibu
0813 281 63xxx
Lelaki ini terkejut langsung mengetik pesan singkat di HPnya, banyak yang dia lupakan, bahkan dirinya sendiri. intinya dia sungkem lewat HP. Tapi doanya masih belum di jawab, mulutnya banjir takbir, hatinya badai permohonan, matanya menghujan air mata.
'A bad day, aku nolong operasi caesar.
the baby and mother were save for a while
tapi bayinya cuma tahan 5 jam
kelainan jantung'
Sender:
Pacar
08111283xxx
Lalu...
'How's ur trip?
pengin minta maaf (lol)
i am too cute for any disappointment, ain't i?
say hi to Shah Rukh Khan, cepetan balik
MYSM
Sender:
Pacar lagi
08111283xxx
Doanya masih belum didengar...
Dia masih menunggu..
Detik..
Detik..
Biiiiiiiiip......!!!
'Kamu nggak perlu minta maaf, aku juga salah
bad timming, silly situation, an unecessary grieves
dari dulu kamu gak pernah jadi musuhku kok
u are precious and always will
best friend forever yah...'
Sender:
Mantan Pacar
0817 776xxx
Lelaki ini tersenyum, dari mulutnya ucapan syukur pada Tuhannya tak henti-henti. Tiba-tiba dunianya menari seperti penari kathak lengkap dengan kain sarinya yang bermanik-manik. (harusnya dia banyak bersujud karena tuhan maha pengasih). Tersungkur ia di lantai hotel yang dingin. suara takbir mungkin tak terdengar di negeri Hindi ini, tapi dalam hatinya takbir merendam jiwa bersusulan dengan detak jantungnya. Ditanggalkannya kesombongan, disucikannya jasad, direndahkannya segala. satu jiwa lagi mengecil di bumi entah di mana...
'Bagaimanapun Tuhan Maha Pengasih'
...Allaahu Akbar wa lillah Ilhamdu....
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Met Lebaran Semuanya!
Jaipur October 23rd 06.
*Sometimes there is joy sometimes there is sorrow

HAPPY F### BIRTHDAY

Manakah yang lebih jelas terdengar, suara kereta menembus malam dalam perjalanan kita ke Flemington, atau harapanmu tentang saya?. Saya masih ingat jaket velvet yang kamu lingkarkan di bahu saya, waktu itu dingin hampir membekukan sungai Yarra dan kita berdua terdampar
di Collin Street.
“Drink up your coffee, we’ve better get hurry or we shall miss the bus!” Wajahmu sedingin puncak cartenz,
“I don’t want to go!” Hati saya sepucat bulan awal November.
“We must” Kamu memaksa
“Even i don’t need us to go anywhere” Saya membeku
“I leave you here…” kamu berdiri menatap saya beberapa milidetik, kemudian berlalu meninggalkan saya dengan rokok dan sisa kebingungan.
“It's my f***birthday!! leave me anywhere, i don’t care...”
Manakah yang lebih jelas terdengar waktu itu, suara saya atau ambisimu? Kita berdua tak mengerti sehari itu kita bersama tak hampir menghampiri. Dan sekarang tiba-tiba kamu ada didepan saya, ribuan kilometer jaraknya dari tempat terakhir kita bertemu. Apa yang harus saya katakan? Bukankah kamu yang memutuskan untuk meninggalkan saya di tempat itu? Bahkan Melbourne utara tidak pernah bertanya apakah saya akan kembali atau tidak (not a way, too much pain).
“This should be the best time to forgive each other” Kamu berharap, sepertinya maaf
“Ramadhan?” saya mendongakkan kepala, sepertinya alis saya terangkat tinggi-tinggi
“What else” kamu menundukkan wajah
“Apa yang harus dimaafkan?” saya mengulur waktu
“You tell me” kamu tersenyum
“I forgive you, but i can't forget”. Kamu yang meninggalkan saya, apa yang kamu harapkan? Kamu pikir malam itu saya bisa pulang dan tertidur lelap?. Sisa dolar di jaket saya langsung saya belikan tiket pulang ke Jakarta besoknya.
Membawa sekeranjang penuh kebingungan, perasaan ditinggalkan, kebencian, dan kesedihan, kesedihan bahwa saya belum pernah diperlakukan serendah itu.
Manakah yang lebih jelas terdengar kebencian saya atau Ramadhan yang seharusnya penuh maaf? Saya tidak tahu, bolehkah memaafkan tanpa harus melupakan bahwa seseorang pernah menyakiti kita? Saya benar-benar bingung. Saya mencoba mencari-cari ketulusan lewat matamu, danau itu masih ada disana, dulu sangat menyenangkan menyelaminya dalam udara hangat musim panas Victoria.
“Happy Birthday, I miss you, forgive me…” Kamu berharap, matamu berurai kasih sayang
“Thanks, I forgive you, leave me alone…” Saya mematung,
Dan hati saya jadi lebih jelas terdengar, menimbulkan echo di udara…
Kamu membeku.
Ah hati yang tak mau memberi, mampus saja kau dikoyak-koyak sepi (Chairil Anwar)

Oktober 2006