RHAPSODY IN D MINOR

Demi tuhan Frans, kamu ingatkan sisa perjalananku waktu itu? Tinggal pasir Arafah kemudian suhu yang panas melelehkan isi kepala. Tidak lagi membatu, sisa wudhu, ibadah malam, berlari kecil antara Shafa –Marwa, lalu batu kehitaman dari surga. Dia menciptakan sesempurna itu. Bahkan pasir yang basah embun masih terasa lembut di kakiku. Aku memang melihatnya sejelas cahaya yang dipancarkan pada rantai laba-laba waktu pagi. Demi tuhan, kita tidak berarti apa-apa. Dan apapun itu yang kamu bilang sangat berarti tidak lagi punya arti selain aku mengecil dan pasrah dalam genggamannya.
‘ Kamu meninggalkan aku!’ seribu malaikat runtuh, mata birumu bermuara
‘Kamu menyakitiku!’ sejuta badai membumi lantak, mata birumu menjatuhkan hujan
Wajah, gambar, topeng, kanvas, aku dan kamu di seberang. Duduk di kursi kayu (ukiran jogja, aku yang membelinya tahun lalu) menjura diatasnya. Ah..prasangka! bukankah kita juga yang membeli dan memberi nilai bagi apapun menurut standar kita? Lalu siapa yang adil memberi patokan antara berbuat baik dan berbuat benar? Apakah kita berdua disini, di apartemen ini yang sesungguhnya sudah terlalu sibuk menduga siapa yang harusnya memulai persenggamaan otak. Kamu dengan penuh gairah mencumbui bayanganku atau aku yang membalas dengan kecupan, jilatan, hembusan nafas lidah basahmu pada kalbuku?. Kita sama-sama memberi arti dan nilai yang sampai kapanpun tidak akan pernah adil. Kita senggama, kita sengsara...
Frans, badanmu menggigil tetapi basah oleh keringat (kamu marah), aku membeku. Tidak lagi kulihat kebijakan Aristoteles di wajahmu. Padahal kita diajarkan menjadi pemikir yang mengagungkan silogisma dan premis-premis murni yang punya sebab dan akibat. Di luar itu biar saja alam yang mengatur, bukankah Dia ada sebelum semuanya ada? Dan Dia akan tetap ada waktu kita sudah membangkai. Lalu apa artinya semua yang kita anggap penuh arti jika pemberi arti membuat semua yang Dia fana-kan tidak berarti. Aku menggigil dan sekarang kamu membeku.
‘Tuhanku juga Tuhanmu’
Frans, aku tak lagi menginginkan ini. Bahkan sejujurnya aku tidak pernah menginginkan ini selain segala keindahan yang kamu dengung-dengungkan ke telingaku. Berujung sebuah getaran hebat yang dengan angkuhnya kita beri nama cinta. Sementara aku dan kamu bersijingkat, berkucing-kucingan dengan yang maha baik, bahkan saling membelakangi surga di lingkungannya yang berwarna-neka. Demi tuhan kita bergulat pada pemikiran yang bahkan tidak pernah ada dan itu sama artinya dengan berdusta. Siapa yang mendusta dan apa yang didustakan? Kita terpaku-kita membeku
Aku letih, bolehkah untuk sejenak saja atau mungkin selamanya kuhentikan gerakku, menoreh padatkan sedikit saja kebenaran pada sebagian jejak langkahku. Atau memohon ampun lewat doa-doa yang sudah lama tidak terjawab. Dan aku tetap memegang tanganmu, menuntunmu ke tempat yang indahnya sama dan sebangun. Aku yakin kita punya gerak yang sama dan tuhan yang sama untuk meminta. Tak pernah lagi kuhalalkan kamu menjamah selain mushaf indah di meja kerjaku (dan bukannya aku marah). Tak pernah lagi kuhalalkan kamu mencium selain sajadah di ruang tamuku (dan bukannya aku marah), tak pernah lagi ku halalkan kamu memeluk selain hangat cahaya-Nya(dan bukannya aku marah), tak pernah lagi kuhalalkan kamu memuja dan merayu selain dzikir yang mengingat-Nya (dan tidak pernah karena aku marah). Hidup memang belum pernah sejujur ini dalam membalas tapi sakitnya nyata, jauh lebih nyata dari rasa sakit yang kamu bilang kamu rasakan.
Frans, jika dalam kehidupan seribu atau sejuta tahun dari sekarang kita masih tercipta dalam sebuah atom karbon atau molekul lain yang jumlahnya tidak terhitung (dan itu pasti karena rahmat-Nya) aku ingin berterima kasih dan bersyukur karena pernah bertemu ciptaannya yang hampir sempurna yaitu dirimu dan itu pasti. Mata birumu kan tidak pernah berbohong? Lalu kita sama-sama menyanyikan shalawat badar atau mendengungkan puji-pujian selaksa lebah bahkan langit pun bergetar. Lalu aku melihatmu berjalan dalam bentuk lain, rambutmu yang pirang keemasan tertiup angin, berada di barisan orang-orang yang bersyukur dan berhati bersih. Terdengar doa anak-anak kecil yang kamu beri pengobatan gratis. Korban banjir dan tsunami yang kamu tampung dan tanpa jijik kamu obati klukanya yang setengah mengoreng. Kemudian semuanya tersenyum padamu yang tidak pernah tuli dan tidak juga bisu merasakan kesulitannya. Kalau kamu berada di barisan itu aku juga ingin di dalamnya. Kamu mengerti bukan?
‘Tapi kamu meninggalkanku!’ bibirmu bergetar saat mengucap menahan ratap, (bahkan aku tak pernah berniat meninggalkanmu). Lalu kita terdampar di sini, di apartemen ini, sibuk merangkai kekalutan masing-masing. Kamu diam dan aku membeku
‘Tuhan hati kami bersenggama’
Dan aku runtuh menarik kopor penuh pakaian, kemudian melangkah melewati pintu tak akan pernah kuketuk lagi. Aku tahu mata birumu berurai tangis. Dan keindahan itu jauh lebih Indah jika artinya benar-benar memiliki arti dari yang maha memberi arti. Hari memang tidak pernah seindah ini, tapi kenapa aku yang harus lebih dulu membeku..
(Maat taufik ya nurul aini...allah wa yubarrik fik

Juni 03 2004

0 comments: